Sejarah adalah sebuah estafet nurani, dan bagi Megawati Sukarnoputri, kemerdekaan Palestina bukanlah sekadar isu geopolitik kontemporer, melainkan utang peradaban yang harus dilunasi. Sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus putri sang Proklamator, beliau menempatkan pembelaan terhadap bangsa Palestina dalam garis lurus dengan visi besar Bung Karno. Baginya, selama Palestina belum merdeka, maka selama itu pula nafas Dasasila Bandung belum tuntas dihirup oleh dunia. Perjuangan Megawati sukarnoputri tidak lahir dari ruang hampa. Perjuangan ini berakar kuat pada prinsip “Futuristik Soekarno” yang memandang kolonialisme sebagai musuh abadi kemanusiaan.
Pada tahun 1962, Bung Karno dengan lantang menyatakan bahwa selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada rakyat Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.
Beliau mengambil tongkat estafet ini dengan konsistensi yang teguh. Dalam setiap langkah politiknya, baik sebagai kepala negara maupun pemimpin partai, beliau menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina adalah amanah konstitusi. Baginya, membela Palestina adalah cara Indonesia untuk menjaga martabat di mata dunia, sekaligus membuktikan bahwa bangsa ini tidak pernah lupa pada akarnya sebagai pelopor kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
Kaitan antara perjuangan Palestina dan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 menjadi benang merah yang selalu ditekankan oleh Megawati sukarnoputri, dalam peringatan 70 tahun KAA di Blitar, beliau mengajak dunia untuk meninjau kembali komitmen negara-negara selatan, dimana Palestina adalah satu-satunya peserta KAA yang hingga hari ini belum mengecap kemerdekaan penuh.
Megawati Sukarnoputri memandang kemerdekaan Palestina sebagai “janji yang belum terpenuhi” dari semangat Bandung. Beliau menyuarakan bahwa solidaritas Asia-Afrika tidak boleh hanya menjadi romantisme sejarah atau pajangan di museum. Solidaritas itu harus terwujud dalam tekanan diplomatik yang nyata dan posisi politik yang tak tergoyahkan. Di berbagai forum internasional, termasuk di Beijing dan Roma, Megawati Sukarnoputri terus mengingatkan bahwa stabilitas dunia tidak akan pernah tercapai selama ketidakadilan di tanah Palestina dibiarkan terus berlangsung.
Ketika agresi di Gaza memuncak, Megawatisukarnoputri muncul dengan kritik yang tajam dan menggugah nurani, beliau tidak hanya bicara soal kedaulatan wilayah, tetapi tentang “rasa kemanusiaan” yang mulai pudar di panggung global. Megawati mengecam keras tindakan tidak berperikemanusiaan yang merenggut nyawa anak-anak dan warga sipil. Beliau mempertanyakan diamnya negara-negara besar yang sering mendengungkan hak asasi manusia, namun menutup mata atas tragedi di Gaza.
Melalui Unbroken Kids Alliance di Roma, Italia, Megawati Sukarnoputri menandatangani komitmen dukungan konkret bagi anak-anak korban perang. Langkah ini menunjukkan sisi keibuannya sebagai seorang pemimpin yang melihat bahwa di balik angka-angka statistik korban jiwa, ada masa depan manusia yang sedang dihancurkan. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina adalah harga mati, sebuah kedaulatan yang penuh dan tanpa tawar-menawar.
Dalam setiap pidatonya di forum PBB maupun pertemuan internasional lainnya, Megawati Sukarnoputri selalu menyelipkan pesan bahwa dunia tidak boleh menerapkan standar ganda. Baginya, Palestina adalah ujian bagi integritas hukum internasional. Jika dunia membiarkan kolonialisme modern di Palestina terus terjadi, maka runtuhlah moralitas tatanan global yang kita bangun.
Pesan beliau jelas dan tegas, Indonesia tidak akan pernah berpaling. Dukungan terhadap Palestina adalah bagian dari identitas nasional Indonesia yang berlandaskan pada prinsip bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dengan bahasa yang puitis namun tegas, beliau sering mengingatkan bahwa sejarah akan mencatat siapa yang berdiri membela keadilan dan siapa yang diam seribu bahasa dalam kenyamanan diplomatik.
Perjuangan Megawati Sukarnoputri untuk Palestina adalah manifestasi dari kesetiaan pada ideologi dan kemanusiaan. Dengan mengaitkan perjuangan ini pada semangat Asia-Afrika, beliau memberikan konteks sejarah yang kuat bagi generasi muda bahwa isu Palestina bukan hanya soal konflik wilayah, melainkan soal penindasan manusia atas manusia lainnya.
Hingga detik ini, Megawati Sukarnoputri terus menjadi penjaga nyala api semangat Bandung. Beliau memastikan bahwa suara Palestina akan selalu menggema di ruang-ruang kekuasaan di Indonesia dan di telinga dunia. Baginya, membela Palestina adalah cara terbaik untuk menghormati masa lalu dan menyelamatkan masa depan kemanusiaan.
Penulis
Sapto Raharjanto
Pengamat Sosial dan Politik Indonesia
Tidak ada komentar