Foto Yunius Suwantoro Kader PSI
Oleh : Yunius Suwantoro,S.sos
Jika Partai Solidaritas Indonesia (PSI) benar-benar ingin bermetamorfosis menjadi partai “Gajah” yang mendominasi nusantara, mereka harus berhenti bermain aman sebagai “anak manis” di politik nasional. Realitasnya, panggung politik Indonesia adalah hutan rimba. Untuk menjadi raksasa, PSI harus berani keluar dari kandang nyaman media sosial dan mulai melakukan invasi teritorial ke basis-basis tradisional yang selama puluhan tahun diklaim sebagai “tanah keramat” oleh partai-partai mapan. Langkah ini bukan sekadar ekspansi, melainkan sebuah deklarasi perang terbuka terhadap kemapanan.
Partai-partai tua saat ini sedang terbuai dalam kenyamanan feodalisme internal mereka. Inilah celah mematikan yang harus ditusuk oleh PSI. “Meng-Gajahkan” daerah berarti PSI harus berani masuk ke desa-desa, bukan untuk sekadar membagikan kaos, tetapi untuk membajak narasi “wong cilik” yang selama ini dimonopoli partai warna merah atau hijau. Bayangkan kepanikan para elit partai lama jika PSI tiba-tiba lebih fasih bicara soal harga gabah dan subsidi nelayan daripada mereka yang sudah berkuasa puluhan tahun.
Strategi “udara” PSI memang berisik, tapi partai tetangga hanya tertawa melihatnya karena dianggap tidak menapak bumi. Untuk membalikkan senyum sinis itu menjadi keringat dingin, PSI wajib membangun struktur partai yang militan hingga ke tingkat RT, selayaknya sel-sel tidur yang siap bangun serentak. PSI harus hadir di poskamling dan rembug desa dengan solusi konkret, membuat kehadiran kader partai lain yang hanya muncul lima tahun sekali terlihat usang, malas, dan tidak berguna.
Langkah paling provokatif yang harus diambil adalah “pencurian” aset sumber daya manusia secara terbuka. Di daerah, banyak tokoh muda potensial dan vokal yang karir politiknya dimatikan oleh senioritas partai lama yang kaku. PSI harus menjadi sekoci penyelamat sekaligus panggung bagi mereka. Merekrut “barisan sakit hati” yang berkualitas dari partai lain akan menciptakan efek ganda: memperkuat otot PSI sekaligus menggembosi kaderisasi pesaing dari dalam. Ini akan memicu emosi para ketua DPC partai lain yang merasa “dapur” mereka diacak-acak.
PSI harus menanggalkan eksklusivitas gaya bahasa Jakarta Selatan yang elitis. Jika ingin merebut hati basis massa partai religius atau nasionalis tua, PSI harus melakukan kamuflase budaya yang sempurna. Kader PSI harus bisa duduk bersila di pengajian atau minum kopi di lapo dengan luwes tanpa kehilangan substansi progresifnya. Ketika PSI mulai diterima secara alamiah oleh pemilih konservatif pedesaan, saat itulah alarm bahaya berbunyi kencang di kantor pusat partai-partai besar.
Penggunaan “Politik Kebencian” pada korupsi harus diubah menjadi senjata pembunuh karakter lawan yang legal. PSI di daerah harus menjadi whistleblower paling bising terhadap inefisiensi DPRD dan Pemda yang dikuasai partai lama. Dengan menelanjangi kinerja buruk petahana secara data (bukan fitnah), PSI memposisikan diri sebagai antitesis yang bersih. Ini akan membuat partai penguasa daerah marah besar karena “borok” mereka diumbar, namun rakyat akan melihat siapa yang benar-benar bekerja.
Realita logistik tidak bisa dipungkiri, “Gajah” butuh makan banyak. Namun, alih-alih ikut dalam politik uang yang brutal, PSI harus merusak pasar suara dengan “politik pelayanan”. Ketika partai lain sibuk menyebar amplop serangan fajar, PSI harus sibuk menyebar advokasi hukum gratis dan pendampingan BPJS setahun penuh. Ini adalah strategi yang menjengkelkan bagi lawan: PSI menawarkan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang, yaitu rasa aman dan kehadiran.
Faktor Kaesang dan bayang-bayang Jokowi harus dieksploitasi tanpa rasa malu sebagai simbol “estafet yang sah”. Narasi ini akan sangat menyakitkan bagi partai yang merasa paling memiliki Jokowi di masa lalu. PSI harus agresif mengklaim bahwa visi pembangunan yang disukai rakyat ada di tangan mereka, membuat partai lain terlihat seperti masa lalu yang gagal beradaptasi dengan era baru kepemimpinan nasional.
PSI harus berani membenturkan realita kinerja antar daerah. Jadikan daerah di mana PSI memiliki kursi legislatif sebagai etalase percontohan yang mencolok. Jika legislator PSI bisa bekerja jauh lebih transparan dan responsif dibanding ratusan legislator partai lama yang hanya “datang, duduk, diam, duit”, maka rakyat akan memiliki pembanding yang nyata. Tidak ada yang lebih membuat emosi partai lain selain dipermalukan oleh kinerja pendatang baru.
Targetkan pemilih pemula dengan cara memisahkan mereka dari warisan politik orang tuanya. Di banyak daerah, pemilih muda memilih partai tertentu hanya karena tradisi keluarga. PSI harus memutus rantai ini dengan agitasi bahwa memilih partai lama sama dengan melanggengkan kebobrokan masa lalu. Ini adalah serangan psikologis yang akan membuat mesin partai tradisional panik karena kehilangan regenerasi basis massanya.
Isu intoleransi jangan hanya jadi jualan di medsos, tapi harus jadi aksi nyata melindungi minoritas di daerah basis partai religius konservatif. Ini berisiko, namun jika berhasil, PSI akan mencuri niche market yang sangat loyal yang selama ini merasa tidak ada partai yang berani pasang badan. Keberanian ini akan menampar wajah partai-partai nasionalis lain yang seringkali bersikap abu-abu demi keamanan elektoral semata.
Riset berbasis data harus menjadi senjata senyap PSI. Sementara partai lama masih menebak-nebak selera pemilih menggunakan intuisi usang ketua cabangnya, PSI harus sudah tahu isi dapur setiap rumah tangga lewat big data. Kemampuan membedah keinginan pemilih secara presisi akan membuat kampanye PSI jauh lebih efektif dan hemat biaya, membuat partai lawan yang boros anggaran terlihat bodoh dan ketinggalan zaman.
Disiplin kader adalah mutlak. Partai lama seringkali rontok karena arogansi kader di daerah yang merasa jadi raja kecil. PSI harus menampilkan wajah kerendahan hati yang ekstrem namun mematikan. Kader PSI dilarang minta dilayani, tapi harus melayani. Kontras perilaku ini di mata masyarakat akan secara alamiah membunuh karakter feodal politisi lama tanpa perlu PSI mengeluarkan sepatah kata pun.
PSI harus siap menjadi “musuh bersama” di parlemen daerah. Jangan berharap disukai oleh koalisi partai gemuk. Justru, PSI harus menikmati peran sebagai oposisi yang menyebalkan bagi status quo. Setiap kali PSI dijauhi atau dimusuhi partai lain di sidang DPRD, itu harus dijadikan konten bahwa “Kami dimusuhi karena kami benar dan tidak bisa diajak kongkalikong”. Narasi ribut-ribut ini adalah promosi gratis yang efektif.
Akhirnya, untuk meng-Gajahkan diri, PSI harus memiliki mentalitas predator yang dingin. Tidak ada lagi rasa sungkan politik. Setiap jengkal tanah, setiap isu lokal, dan setiap kekecewaan rakyat terhadap partai lama adalah peluang untuk menerkam. Jika PSI konsisten melakukan ini, mereka tidak hanya akan menjadi besar, tetapi mereka akan memaksa partai-partai lama untuk berubah atau mati perlahan ditelan zaman. Dan itulah skenario yang paling ditakuti oleh para raksasa tua saat ini.
* Penulis adalah politisi muda kader aktif PSI
Tidak ada komentar