Kericuhan Mewarnai Aksi Mahasiswa di Universitas Madura, Diduga Disebabkan Oleh Adanya Penyusup

waktu baca 2 menit
Minggu, 14 Des 2025 14:29 158 politisi

Pamekasan,  -Aksi demonstrasi yang mengatasnamakan aliansi mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) dengan tuntutan Turunkan wakil rektor 3 dan pengembalian SK penetapan Presiden Mahasiswa (Presma) berakhir ricuh dan anarkis. Kericuhan semakin tak terkendali setelah terungkap bahwa orator aksi bernama Erwin ternyata bukan mahasiswa, melainkan oknum luar kampus yang memimpin massa tanpa dasar yang jelas.

 

Sejak awal, aksi ini sudah mencurigakan. Massa datang berkelompok, berteriak lantang, namun tanpa mekanisme dan koordinasi formal sebagaimana aksi mahasiswa pada umumnya. Setelah dilakukan pengecekan identitas, diketahui bahwa sebagian besar peserta aksi justru bukan mahasiswa aktif.

 

“Banyak wajah baru yang tidak dikenal. Setelah ditelusuri, oratornya sendiri bukan mahasiswa. Itu yang bikin semakin aneh,” ungkap seorang mahasiswa UNIRA.

 

“Banyak yang mengaku mahasiswa, tapi setelah dicek, sebagian dari mereka bukan mahasiswa UNIRA. Bahkan ada yang sudah lama lulus,” ungkap salah satu mahasiswa yang menyaksikan langsung aksi tersebut.

 

Situasi semakin kacau ketika massa yang tidak jelas identitasnya mulai bertindak agresif dan memancing konflik. Mereka mendorong-dorong petugas keamanan, membentak mahasiswa lain, bahkan mengganggu mahasiswa yang sedang duduk santai di lingkungan kampus.

 

Selain itu, massa aksi juga melakukan:

Perusakan fasilitas kampus

Upaya penyegelan paksa kantor universitas

Teriakan provokatif ke mahasiswa yang tidak ikut aksi

Intimidasi terhadap warga kampus

 

Beberapa mahasiswa yang sedang beristirahat mengaku tiba-tiba diteriaki dan di hajar oleh sejumlah massa aksi.

 

“Kami cuma duduk santai, tiba-tiba mereka datang marah-marah dan bikin ribut. Jelas kami merasa tidak nyaman,” kata salah satu mahasiswa.

 

Kerusuhan diperparah oleh kehadiran oknum luar kampus di duga alumni mahasiswa yang di dapati ikut berbaur dalam barisan massa dan memprovokasi tindakan anarkis.

 

Pihak Universitas Madura mengeluarkan pernyataan tegas bahwa tindakan tersebut tidak akan dibiarkan, terlebih karena melibatkan pihak luar yang menggunakan nama aliansi untuk memicu kekacauan dan merusak fasilitas kampus.

 

“Kampus adalah ruang akademik. Tindakan liar seperti ini jelas melanggar aturan dan akan kami tindak,” ujar salah seorang mahasiswa universitas madura.

Kericuhan ini kini tengah menjadi sorotan publik karena menunjukkan bagaimana aksi yang mengatasnamakan mahasiswa ternyata disusupi pihak luar dan berubah menjadi tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA