Dalam filsafat analitik, istilah pandangan hidup merujuk pada kerangka konseptual yang dipakai individu atau kolektif untuk memahami dunia dan menentukan bagaimana mereka seharusnya bertindak di dalamnya.
Pandangan hidup mencakup keyakinan metafisik (tentang apa yang nyata), epistemologis (tentang apa yang bisa diketahui), dan normatif (tentang apa yang baik atau benar). Namun, berbeda dengan sistem filsafat akademik, pandangan hidup bersifat lebih praktis dan terpadu: ia memuat narasi identitas, tujuan, dan orientasi terhadap dunia yang bersifat implisit maupun eksplisit. Misalnya, seseorang yang memandang hidup sebagai perjuangan moral akan menilai politik, ekonomi, bahkan sains dari sudut keberpihakan etis. Pandangan hidup semacam itu menjadi dasar bagi tindakan dan persepsi sosial, serta dapat menjadi sumber dari ideologi ketika ia mulai dipolitisasi.
Ideologi dalam pengertian analitik dapat dipahami sebagai sistem keyakinan normatif-deskriptif yang secara eksplisit digunakan untuk mengorganisasi masyarakat dan melegitimasi struktur kekuasaan tertentu. Ia bukan hanya kumpulan pendapat, tetapi seperangkat klaim tentang fakta sosial (apa adanya), nilai-nilai sosial (apa seharusnya), dan strategi tindakan kolektif (apa yang harus dilakukan). Ciri khas ideologi adalah fungsinya yang ganda: ia memberi arah dan justifikasi terhadap kebijakan politik, sekaligus membentuk persepsi umum mengenai apa yang dianggap normal, sah, atau rasional. Dalam konteks ini, ideologi bertindak sebagai medium antara pandangan hidup dan struktur sosial: ia mentransformasi keyakinan personal menjadi basis bagi tindakan institusional. Misalnya, ideologi neoliberal mentransformasikan pandangan hidup yang individualistik menjadi prinsip kebijakan ekonomi pasar bebas.
Namun ideologi tidak bekerja dalam ruang kosong. Ia beroperasi dalam ruang kontestasi sosial yang disebut hegemoni. Hegemoni adalah keadaan di mana suatu ideologi berhasil menanamkan dirinya sebagai “akal sehat” sosial, bukan karena kemenangan kekerasan terbuka, melainkan karena diterimanya nilai-nilai dan narasi tertentu secara sukarela oleh mayoritas populasi. Konsep ini berasal dari Gramsci, tetapi dapat dijabarkan secara analitik sebagai mekanisme persetujuan simbolik yang menyembunyikan dominasi dalam bentuk internalisasi nilai. Dalam hegemoni, rakyat tidak dipaksa untuk tunduk, tetapi diajarkan untuk menganggap penundukan itu sebagai pilihan rasional dan etis. Oleh karena itu, keberhasilan ideologi bergantung pada kemampuannya menciptakan hegemoni: yakni menjelma menjadi horizon berpikir yang tidak dipertanyakan.
Untuk menjembatani ideologi dan hegemoni ke dalam kekuasaan aktual, diperlukan operasi politik. Ini adalah serangkaian tindakan strategis yang dilakukan oleh aktor politik untuk menegosiasikan, membentuk, atau mempertahankan konfigurasi kekuasaan. Operasi ini bisa bersifat material (misalnya alokasi sumber daya), simbolik (pengendalian narasi, makna, identitas), maupun institusional (pembentukan aliansi, perancangan hukum, kontrol terhadap aparat negara). Dalam kerangka ini, operasi politik bukan sekadar teknik mengambil alih kekuasaan, melainkan teknik membentuk kondisi di mana kekuasaan dapat tampil sebagai sah dan efektif. Operasi politik yang berhasil bukan hanya menundukkan lawan, tetapi mengintegrasikan dukungan melalui logika hegemonik yang telah dibentuk sebelumnya. Ia mengandalkan kemampuan membingkai realitas, mengartikulasikan tuntutan, dan mendefinisikan identitas kolektif.
Dengan demikian, pembangunan kekuasaan tidak dapat dipahami hanya sebagai akumulasi alat koersif. Kekuasaan, dalam pengertian analitik dan strategis, adalah efek dari artikulasi sistematis antara pandangan hidup, ideologi, hegemoni, dan operasi politik. Pandangan hidup menyediakan horizon nilai dan identitas; ideologi merumuskan dan menstrukturkan nilai tersebut dalam bentuk program politik; hegemoni memastikan penerimaan nilai itu dalam benak publik; dan operasi politik mengimplementasikannya ke dalam sistem institusional. Kekuasaan adalah struktur yang dikonstruksi melalui interaksi semua elemen ini secara simultan. Maka, untuk membangun kekuasaan yang tahan lama dan sah, tidak cukup dengan memenangkan pemilu atau mendominasi institusi; yang jauh lebih penting adalah menguasai narasi, membentuk common sense, dan mengorganisasi keyakinan publik melalui ideologi yang konsisten dan hegemonik.
Pola informasi dan komunikasi
Pada saat ini Dunia sedang berada di suatu situasi yang bernama situasi sosial informatif yang dikomunikasikan dengan instrumen yang sana sekali BARU, diera ini yang bernama Era DIGITAL sudah tersedia model desain yang terpolakan dengan Hebat’ dalam artian sanggup membentuk cara berfikir, cara berbicara dan cara berperilaku, inilah sebuah Era yang membentuk kelakuan Administratif yang baru dan dalam hal ini kaum milenial berada pada posisi didepan dalam menyongsong datangnya SEBUAH ERA tidak terbayangkan sebelumnya
Hari’ adalah hari’ hari’ yang progresif dan Revolosioner, hari’ ini hari’ hari merangkai tindakan tindakan produktif, hari’ ini adalah hari’ hari’ yang menyajikan gambar gambar Peradaban, hari’ ini adalah hari’ hari’ terbukanya pintu dan jendela Dunia, hari ini adalah hari’ hari’ yang membuat segala sesuatunya menjadi ada, hari ini adalah hari’ hari’ berpikir yang logis, realistis dan praktis karena kemudahan kemudahan telah tersedia, hari ini adalah hari’ hari’ yang tidak membutuhkan berbicara yang berbusa busa , hari’ ini adalah hari’ hari’ yang terwakili oleh jari jemari untuk mengakses segala aspek kehidupan.
Ada sebuah paradigma yang berbunyi Komunikasi adalah Jembatan EMAS untuk dilalui dalam rangka pencapaian tujuan, namun jembatan tersebut tidak untuk dijadikan tempat pemberhentian selamanya melainkan untuk dibakar dan dihancur leburkan, dan sudah tidak menjadi sebuah sesuatu yang mengganggu jalannya peradaban Baru, namun dengan Metodologi yang relevan yang efektif dan efisien menyongsong dan melanjutkan suatu Era Baru yang saat ini bernama Era DIGITAL
Dalam pada itu kekuatan pengetahuan ilmiah adalah satu satunya yang bisa digunakan untuk mengurus Globalisasi dengan segala konsekwensinya
Kakuatan pengetahuan untuk mengurus globalisasi pada saat stagflasi (stagnansi dan inflasi) ekonomi
Globalisasi telah menggunakan instrumen yang handal dan akurat ia adalah Digitalisasi yang terus bergerak berimplikasi Riil terhadap kehidupan sosial anak anak manusia yg tinggal di muka bumi
REJIM POLITIK, REJIM sosial, REJIM keagamaan maupun REJIM kebudayaan telah menyatakan siap bergabung dengan REJIM Digital dan dengan kata lain sudah menyerah tanpa syarat.
Lihatlah diluar sana
Setiap individu Manusia sedang ketakutan
Sedang gelisah
Sedang tidak punya pengharapan
Dan ketika mereka lapar yg berkepanjangan
Dan kalau mereka marah
Dan kalau mereka kusumat
Apa yang akan terjadi???
Yang terjadi adalah perubahan pola dengan keterlibatan langsung baik physik maupun mental untuk menjadi bersatu dengan era globalisasi saat ini yaitu Digitalisasi
Ayo bertindak
Karena yg bisa merubah Dunia adalah bertindak
Berpikir dan memikirkan SDH selesai
Tetapi harus diingat bahwa Milenial di Republik Indonesia ini SDH menjadi Libertarin
Dia SDH tidak peduli dgn bangsa dan negara
Dia individualistik
Dia Anti sosial
Dia SDH muak dgn Prilaku orang tuanya yg kebanyakan PEMBOHONG dan Otoriter
Dan jangan salahkan mereka jika suatu saat Milenial ini akan membunuh semuanya
Libertarian Libertarian telah menhantui Dunia
Libertarianis SDH kongkrit dlm ruang dan waktu sebagai eksistensi manusia
Libertarianisme adalah Eksistensiku Manusia yg membuat jalan sejarahnya sendiri
Libertarianisme adalah keberadaanku yg utuh dan menyeluruh
Libertarianisme adalah Eksistensiku
Aku bukan endapan struktur sosial ekonomi lagi
Aku bukan esensi lagi
Aku bukan struktur lagi
Aku bukan stratifikasi sosial lagi
Libertarianisme sudah tidak peduli dengan Dinding Britania yg Menguak ,
Aku adalah Eksistensialis yg sedang menjalankan Tugas dan Fungsi sebagai Manusia
Inilah yang dinamakan libertarianisme telah menjadi model yang seksi dan keren karena pola pola yang lama sudah dianggap tidak BECUS dan USANG dan hanya sebagai pengganggu kaum milenial didalam menjalani kehidupan sosialnya sebagai Eksistensi yang kongkrit dan otentik
Penjelasan libertarianisme secara singkat
Libertaranisme dan liberalisme memiliki akar yang sama, yakni kebebasan individual. Secara prinsip, libertarian adalah seorang liberal.
Namun, dalam konteks akhir-akhir ini, libertarianisme lebih dipandang sebagai pandangan bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur pada masalah sosial (agama, identitas, komunitas, dll) dan ekonomi (pajak, regulasi ekonomi, pembatas, subsidi, dll), sedangkan liberasime, secara minimal, hanya pandangan yang menuntut bahwa pemerintah tidak boleh ikut campur pada masalah sosial saja (tentu saja ada liberal yang berada di ruang abu-abu dengan libertarian).
Ini mengapa, para liberal masih percaya bahwa pemerintah masih perlu membuat regulasi tentang, misal pajak dan intervensi regulasi di ekonomi pasar bebas, selama ia, di akhir, membuat kemerdekaan individu di masalah sosial meningkat. Ini berbeda dari para libertarian yang percaya bahwa semakin besar negara, semakin kecil individu. Para libertarian berpikir bahwa regulasi ekonomi dan sosial yang dibuat oleh negara perlu diminimalisasi semaksimal mungkin, bahkan dalam bentuk jaminan kesehatan, sosial, atau ekonomi, terutama pajak dan regulasi.
Ini tidak mengagetkan karena liberalisme dan libertarianisme lahir dari kondisi sosial-ekonomi-politik yang berbeda. Penggunaan kata liberal sekarang sering dikaitkan lahir dari konsep kebebasan setelah perang dunia ke dua, sedangkan libertarian lahir atas respon terhadap ide-ide negara kesejahteraan (welfare state).
Dalam konteks politik Amerika Serikat, jika kita membagi persoalan keterlibatan pemerintah dalam dua bidang di atas. Libertarian setuju dengan para konservatif yang juga yakin bahwa intervensi ekonomi pemerintah harus kecil, tetapi akan bertabrakan dalam isu sosial. Di tempat lain, para liberal biasanya setuju dengan para progresif yang mengusahakan intervensi pemerintah untuk menjamin kesetaraan, tetapi akan bertabrakan saat hal-hal tersebut menggangu masalah kebebasan individu dalam ruang sosial mereka, seperti aturan tentang pembuatan rumah-rumah baru di daerah elit.
Pembusukan thd tradisi telah bejalan dgn lancar
Waktu telah mengharu birukan kehidupan Anak2 manusia, hampir setiap anak manusia berpacu dgn waktu, sehingga tanpa terasa kehidupan sosial ini membawa serta perubahan2 dgn cepatnya, sdh hampir tdk ada lagi ruang dan kesempatan yg tersedia bagi individu2 yg lemah utk hidup layak sebagai manusia, hanya individu yg unggul yg mempunyai peluang utk mendapatkan keberuntungan
Ada masa depan yg sama sekali tidak terhubung dengan masa kini yg sedang kita jalani
Dekontruksi sosial telah berjalan dgn Neo Liberalisme yg mendapatkan tempat di jiwa Jaman ini
Neoliberalisme adalah pembolehan untuk berprestasi, untuk berpersepsi, terhadap segala sesuatu yg telah ada dan menjadi dengan instrumen kebebasan yang tersedia bernama digital yang merupakan sarana kebebasan untuk men- Dunia
Milinial telah menjadi bagian bagian yang tak terpisahkan dengan neoliberalisme, milenial adalah seorang liberal sekaligus seorang LIBERTARIAN
Dan hidup itu seindah bunga mawar dan seharum bunga melati, ketika kewajiban bukanlah beban, ketika perjuangan bukanlah derita, ketika Tualang bukanlah senang, dan bayang bayang hari esok bukanlah kecemasan, Tetaplah Optimis menjelang Masa depan, hanya disitulah di Masa depan itu tempat segala sukses, tempat segala harapan dan cita-cita yang Ber Kemajuan
Pesan dari Eyang Sukmono
“Hidup ini tak hanya tentang berbagi dan mencintai. Tak hanya tentang memberi dan mengasihi. Tak hanya tentang merampas dan menindas. Kehidupan ini tak pernah luput dari yang namanya kehilangan, perjuangan, dan merelakan. Bukankah seperti itu kehidupan ini? Selama kita masih hidup, telah banyak keputusan yang sudah kita buat. Keputusan itu untuk kita sendiri ataupun orang lain. Namun, apakah benar keputusan itu baik untuk kita? Atau justru itu bukan yang terbaik? Oleh karenanya, hidup hanya sekali, maka gunakanlah dengan sebaik mungkin. Memilih teman yang baik untuk hidup, memilih lingkungan yang baik untuk tinggal, dan seterusnya. Bila kau sudah memilih, maka putuskanlah, eksekusi lah hal tersebut.
Dan cinta itu adalah pelayanan dalam setiap perkataan dan perbuatan, cinta itu ialah pancaran kasih dari Tuhan yang maha esa yg tiada berbatas dan tiada berkesudahan, ia terus mengalir sepanjang masa, ia tiada lelah menanti dgn penuh kesabaran, dan pintu pintu itu terbuka utk seluruh suku bangsa manusia dan disitu terlihat dengan jelas hamparan harapan hidup bagi anak anak manusia
Dambaan demi dambaan terus tumbuh dan berkembang menjadi sebuah renungan demi renungan terhadap situasi psikologis setiap individu manusia
Perubahan kelakuan Administratif, artinya Logis dan Realistis dalam memandang setiap Perubahan, Organisasi itu didalam perjalanannya Pastilah akan mengalami Disintegrasi hal itu terjadi karena adanya Interaksi, baik’interaksi politis, maupun interaksi Edukatif, demikianlah keberadaan organisasi itu, dan penghancuran organisasi itu diawali oleh Code Etik organisasi itu sendiri, dan ketika ada konflik kepentingan yg tajam dan Runcing itulah Awal Organisasi itu Berkembang, Selamat Berorganisasi……. Meskipun Organisasi itu secara bertahap akan Usang, berkarat dan membusuk, karena kepemimpinan yang tidak Becus, Salam Perubahan dan Kemajuan.
Waspada Waspadalah terhadap situasi sosial yg partisipatif,
Karena dia Adalah Para penindas yg telah melepaskan Hantu sosial yg bernama DRAKULA POLITIK
Waspada Waspadalah terhadap kondisi Obyektif psikologis yang tidak menentu dan tidak dapat dikendalikan
Situasi sosial itu adalah fenomena dari para mahluk sosial Kongkrit yg merangkai tindakan produktif dalam bentuknya yang unik dan beragam, ia bisa Aktivitas sosial politik maupun sosial ekonomi
Dalam bahasa Jawa namanya WIWIL( ketika Bangsa ini kita Analogikan sebagai POHON, maka sarana yg tersedia yg bernama Tanah yg Cocok untuk tumbuh dan berkembangnya pohon itu , itulah Fondasi yaitu Pancasila, kemudian di delapan penjuru Pohon itu ada sektor pendukung yaitu Topografi ia adalah pelindung dan Pohon itu dari berbagai ancaman misalnya Hembusan angin yang melampaui kapasitas, sinar matahari yang terlalu terik, bencana longsor dan Banjir dsb, topografi itu adalah pemerintah, dan ia bersifat Topografis yg EKOLOGIS, kemudian POHON tersebut tidak independen ia mesti Hiterogin, aneka hayati ada disana, mulailah ada yg bernama Co Adaptasi, dan Co modifikasi, ada hukum yg tak terelakkan yg terjadi di situ yaitu barang siapa yg mendapatkan Matahari paling banyak maka ia akan semakin kuat dan semakin bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah Raksasa) kembali kepada WIWIL: ketika Campur tangan Dari pihak lain yg berorientasi Ekonomis maka POHON yg mempunyai nilai ekonomis tinggi mula di eksplorasi dan benih benih yg kwalitas mulailah disemaikan untuk ditanam dalam rangka kepentingan Ekonomi, inilah WIWIL mulai di efektifkan, tentunya berakibat pada Menurunnya kualitas POHON yg bertumbuh dan berkembang secara alamiah) Naturaisme adalah hal yg sangat asing dan hampir tidak pernah digaungkan di Republik ini
Sebuah ilustrasi
Pada Suatu waktu ada sebuah kejadian yang Fondamental, yaitu tentang adanya Lembaga baru, yang dibatasi oleh Tembok tembok Raksasa, Gedung gedung putih, Rumput hijau dan Kebun Binatang yang Berujut Manusia, Sementara sesosok KAMPUS BIRU berubah menjadi KELABU, semangat Merah,Api Revolusi, api’ kemarahan Dibakar Habis oleh BOM ATOM, Kampus itu Saksi Bisu, Kampus itu Diam tanpa Suara bahkan Bahasa…….. Mendadak HITLER…. STALIN Berkata Ayo kita Kuasai Dunia…..Kata Stalin.Dan Hitler membentak Pergilah ke Timur Hai Komunis dan Aku pergi ke barat…. Secepat kilat momen historis terjadi , Gemuruh Sejuta Marinir mendarat Di Normandia Konspirasi Hitler dan Setalin Gagal, Hiroshima Nagasaki dibakar Bom ATOM, Benar’hebat si keparat Amerika,…. Tetapi…..Di sebelah Tenggara Bumi ini ada yg meledakkan Revolusi SOSIAL dengan kulminasi PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA
Selamat belajar
Dan Bermanfaat
Penulis
Djoko Sukmono
Badan Pendidikan dan Pelatihan
Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis
Tidak ada komentar