Kecerdasan Rakyat Dan Kedekatan Buku Pada Dunia Pendidikan Bangsa
Berhentinya wilayah perbukuan semenjak hadirnya media sosial yang begitu menggigit rakyat melalui Laptop, HP dan sejenisnya. Dengan demikian, semua buku dimasukan ke bentuk pdf, dan semua simpan kedalamnya. Melihat buku menggunakan media elektronik, cepat dan mudah. Tapi apa yang terjadi ?
Lalu hadirlah game game, cerita artis, tiktok, dan lainnya, juga mengaktifkan pemilik hp dan sejenisnya memunculkan dirinya ke dalam dunia medsos (Media sosial) walaupun bertujuan menghibur diri lewat nyanyi, menari dan berbuat gerakan apapun, berkumpul mencari uang buat sesuatu lewat berbagai bingkai entah FB, YouTube dan lainnya.
Sehingga merayap sebagai acara berbentuk entertainmen (hiburan), didominasi para artis top hingga artis besar lewat keberadaan berbagai macam ragam video telah dikreasikan oleh macam macam nama tempat keberadaannya telah dibuat oleh pembuat hp dan sejenis. Karena interaksi antara manusia dan hp demikian kuatnya, hingga munculkan kebiasaan diri atas berbagai jenis isi telepon tangan tersebut, menjadikan budaya sampai tak sadar diri dan tidak paham apakah di tonton memiliki faedah buat kepentingan dirinya atau pun norang lain, khususnya mencerdaskan akal serta mematangkan cara berpikir bagi berkembang wawasan serta menguatkan logika berpikir.
Memang telepon tangan ini, memiliki berbagai fungsi, menjalin komunikasi dengan cepat, ringkas dan padat baik melalui lisan dan tulisan, menyamankan pengguna menjalin hubungan berbagai pihak. Akan tetapi ada pihak pihak tertentu menggunakan media sosial ini, memasukan pemahaman mereka kepada rakyat suatu bangsa secara perlahan tanpa disadari lewat kebiasaan baik entertainmen (hiburan) untuk menikmati acara acara seperti drama, film, musik, keseharian hidup masyarakat di sebuah negara, memunculkan artis artis acara siaran langsung, cerita cerita anak kecil, mereka bermain dalam rasa tak mengajak ke dunia berpikir, sebab acara tersebut berupa hiburan dan dinikmati se-enjoy mungkin. Semudah mudahnya menarik pemirsa menggunakan orang orang populer di negeri tujuan. Keterlibatan baik cara dihadirkan, diajak dalam acara, serta disiarkan media sosial lokal baik gratis maupun berbayar.
Muncullah rasa ketertarikan, diawali keingintahuan, karena ada keterlibatan artis artis lokal dan influencer dari wilayah dimaksud. Disiarkan secara berturut turut dalam hari dan bulan, sampai para penonton menjadi penikmat acara disajikan. Tanpa pengolahan berpikir, hanya bentuk hiburan. Sangat mudahnya masuk budaya lewat penanaman entertainmen tanpa kontrol, tidak televisi juga laptop tapi telepon tangan keberadaannya disisi pemiliknya setiap waktu. Diperkuat lagi dengan gaya meniru para artis dan influencer membuat program acara hiburan sesuai dari pihak luar.
Hal diatas disebabkan oleh keberadaan pemikiran telah hilang dikalangan awam. Keberadaan pematangan pusat pemikiran yaitu dunia pendidikan tidak memberikan pemahaman terhadap berapa perlunya setiap manusia untuk mencerdaskan akal serta memperkuat logika suatu hal terpenting. Masalah ini, diperkuat dengan elit dan para politisi yang hidup dari generasi pendidikan dimasa lalu tak membolehkan orang kritis, penguasaan terhadap cara berpikir rakyat, cita cita diarahkan menjadi dokter, insinyur dan TNI (ABRI), gambar selalu dimulai dengan gunung sawah rumah dan matahari, orang tua tahu segala sesuatu tak boleh dibantah, ditambah para guru mengajar selalu monolog, wawasan ngepas, disaat murid keluar dari cara berpikir mainstream disebut tak sopan, kurang ajar, membantah sebuah kesalahan, hingga sumpah serapah keluar dari mulut seorang guru, seperti tolol, goblok dan sejenisnya, ancaman paling ditakutin murid tak naik kelas serta dikeluarkan dari kelas.
Inilah bentuk ajaran membuat mental murid tak menjadi rendah diri, tak berani berbicara di depan umum, takut disalahkan, memunculkan kemalasan berpikir, disaat jadi elit dan politisi bersifat egois, mementingkan diri sendiri dan keluarga, berbuat sesukanya, korupsi, kolusi dan nepotisme. Dikarenakan ia merasa miliki kekuasaan serta mengatur kekuasaan tersebut. Bebas dari tekanan mental dan psikologi, senang dipuji. Ini semua, tak ada pemahaman terhadap guna juga fungsi mereka sebagai elit dan politisi.
Wawasan dan ilmu pengetahuan tak ada pada diri setiap penguasa. Makanan akal dan logika adalah buku, pengembangan berada pada diskusi, menulis, lisan dari hasil pemahaman terhadap bacaannya. Bila keberadaan masa lalu mereka, berada dalam dunia buku, ide dan wacana, maka sistem pendidikan berjalan tertib, bahkan elit dan politisi memiliki kesadaran bahwa keberadaan dalam kekuasaan memperbaiki kehidupan rakyat, baik kecerdasan maupun ekonomi kreatifitas hukum bergerak menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Berlaku juga “mencerdaskan kehidupan bangsa,” prioritas utama.
Apabila seperti telepon tangan khususnya dalam teknologi kita kuasai lewat pemikiran anak anak bangsa, juga seperti Tiongkok membuat YouTube, WA dan TikTok sendiri perpindahan budaya asing serta merta tak mudah masuk ke wilayah pemikiran rakyat. Terparah adalah dunia kreatifitas selalu didominasi oleh orang orang berdekatan dengan elit dan politisi, baik dari modal dan kelancaran usaha sangat baik, dapat dukungan jaringan media massa dari berbagai jenis dan dijadikan liputan.
Akan tetapi bila rakyat pontang panting mencari modal dan promosi, apalagi ijin usaha. Walaupun kreatifitas dihasilkan oleh kalangan bawah lebih bernilai kelompok elit dan para politisi lebih diperhatikan. Disinilah dibutuhkan pemahaman cara cara berkuasa, mengelola, juga implementasii dari berkuasa. Dibutuhkan pemikiran cerdas, memahami bentuk keadilan, pengelolaan dan bertindak atas diri sebagai penguasa.
Cara diatas membutuhkan pemikiran, keberadaan tersebut ada pada dunia pendidikan bagi pengembangan wawasan akal dan logika. Untuk itu, dibutuhkan buku buku, dikuatkan agar membuat muncul kepercayaan diri lewat mempertahankan argumen, baik lisan maupun tulisan supaya berkembang pemikiran. Kekuatan sebuah bangsa terletak pendidikan rakyat serta berdekatan buku buku, sistem pendidikan yang berkembang dengan baiik, serta para guru berwawasan, memiliki pengetahuan dalam mengajar muridnya.
Teknologi memang penting lebih dari semua itu, mencerdaskan kehidupan rakyat jauh lebih penting, sebab kita dapat memberikan teknologi dari sistem pendidikan rakyat bangsa Indonesiia. Diharapkan muncullah pemikir-pemikir baru dan bermunculan buku buku baru baik politik, ekonomi, sosial budaya dari hasil kreatifitas anak anak bangsa. Sampailah kita, penguasaan teknologi berdasarkan fungsi pengembangan budaya politik bagi kemunculan kemandirian berpikir.
(Kontributor: Putra Aden/17Juli)
Tidak ada komentar