Revolusi Butuhkan Kesadaran Rakyat

waktu baca 2 menit
Jumat, 18 Jul 2025 16:04 359 andi wijaya

Penulis Putra Aden
Editor Andi Wijaya

Politisi.net Ke-merdeka-an Indonesia dari kolonialis, bukan di dapat secara gratis, tetapi melalui sebuah proses pemikiran yang kuat. Proses awal dengan tulisan tulisan, dipelopori oleh Tito Adhi Suryo, melalui koran koran tercetak, disebarkan keberbagai kalangan, salah satunya Medan Priyayi (1907- 1918).

Penggunaan kesadaran, dengan cerita pendek, mengenai nasib negeri terperentah, bersama kebuasan kekuasaan kolonialisme Belanda. Hadirlah H.O.S Tjokroaminoto diberikan amanat oleh Tirto Adhi Suryo untuk melanjutkan Sarekat Islam dari Samanhoedi, Tjokro merubahnya menjadi Central Sarekat Islam 1915. Bergerak dalam pemberdayaan ekonomi umat Islam, dan berhasil menggabungkan, memperluas organisasi sampai hampir ke seluruh Indonesia.

Organisasi pertama, berhasil mengumpulkan bumi putra di satu lapangan besar, sekitar 10.000 orang, Kongres CSI. Selain itu, Tjokro berhasil, mengembangkan sikap nasionalis, Islam, ada pun komunis dikenalkan anak anak didiknya Cokro seperti, Semaoen, Kartosuwiryo, Muso, Soekarno dan lainnya.

Isi pemikiran HOS, terpecah menjadi tiga pemahaman.Tetapi, CSI, terpecah menjadi SI merah (Semaoen), SI putih (Tjokro), SI merah adalah didikan Genk Sneevlit pendiri Indische Sosial Democratic Vereeniging (ISDV), 1914.

Perserikatan Komunis Hindia dipimpin Semaoen 23 mei 1920 -10 Juni 1921, berubah menjadi PKI, kongres 23-24 Desember 1921, dimana Tan Malaka diangkat menjadi ketua Partai Komunis Indonesia, disinilah pola pergerakan berubah menjadi progresif, pembentukan sekolah rakyat, melakukan demo demo dikeramaian rakyat, membawa spanduk, memberikan selebaran propaganda, lalu analisa hasil dari aksi aksi, reaksi penonton, memperkuat sekolah rakyat, dengan membaca, menulis, diskusi, kegiatan Pramuka kepanduan diperkuat.

Tahun 1922, Tan kemudian di buang ke Belanda, atas permintaan sendiri. Muso, Alimin mengambil alih kepemimpinan, pergerakan berubah diarahkan ke perlawanan fisik,Tan menentang sebab organisasi tak akan mampu melawan kolonialis, tanpa keterlibatan rakyat, karena revolusi membutuhkan kesadaran masyarakat terhadap perlawanan.

Tahun 1926-1927, memberontak dengan senjata gagal, kemudian dibubarkan. Tahun 1927, Soekarno muncul, membawa nasionalisme. Pemikiran adalah jalan utama bagi kebebasan “terperentah” asing.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA