Penulis Putra Aden
Editor Andi Wijaya
Politisi. net Gerak revolusi pemikiran di Indonesia, lahir dari bentuk pemahaman terhadap penindasan, penaklukan, keterjajahan. Diawali dari protes Eduard Douwes Dekker, Tito Adhi Suryo, H.O.S Tjokroaminoto, Tan Malaka, Mas Marko, Sukarno, dan lainnya. Tirto Adhi Suryo, menggunakan istilah “negeri terperentah”, melalui Medan Priyayi.
Dia telah meletakan dasar penulisan progresif, revolusioner, memberikan data data kekejaman kolonialis atas bumi putra. Sementara Tjokroaminoto lebih bergerak kepada realitas ekonomi, mengumpulkan para saudagar Islam di bawah bendera Central Sarekat Dagang, hampir seluruh Indonesia, disisi lainnya selalu mengadakan diskusi dirumahnya bersama anak kost.
Diskusi tentang pemikiran, kolonialisasi, nasionalisme, sampai kesadaran berpikir.Tan Malaka, berperan di dunia pendidikan untuk penyadaran, bersama kelompok PKI, mengumpulkan para pekerja kereta api, trem, buruh, pegawai penggadaian, melaksanakan perlawanan dengan aksi demo dike ramai an pusat kota, membuat buku “Naar Republik”. Tan Malaka juga menganjurkan pembuatan pelatihan militer bagi organisasi perlawanan, dipersiapkan peperangan besar nantinya.
Mas Marko, bersama Tan, melakukan penerbitan tulisan tulisan pergerakan. Sementara itu Sukarno, membuat partai, melaksanakan aksi tulisan, menggerakan rakyat di mimbar umum, dengan menggunakan budaya cerita, dongeng, yang populer dikalangan rakyat, terhadap perlawanan penindasan, penaklukan, Keterjajahan, serta cara melawan.
Jadi perlawanan lewat pemikiran, sangat melekat kuat dikalangan para pencetus perlawanan terhadap penindasan, penaklukan, kezaliman Belanda dan kroninya.
Setelah kemerdekaan, ideologi menggunakan pemikiran begitu kuat melawan agresi Belanda, untuk persatuan bangsa sampai terbebas dari penjajahan, tercapinya kesejarahan digunakan, atas kemauan bersama bergabung menjadi Indonesia.
Kesamaan terjajah, persatuan Indonesia digaungkan. Setelah terbentuk pemerintah parlementer 1945 – 1959, kekuatan ideologi terus mempromosikan diri lewat buku buku, pendidikan partai, terjadinya perebutan pengaruh. Di Tahun 1959- 1965, terpusat kekuatan pemikiran satu titik nasionalisme, dibawah ke pemimpinan Sukarno. Peristiwa G30S, hampir menghilangkan kesadaran pemikiran. Muncul lah, Pramoedya Ananta Toer, revolusi pemikiran hidup kembali. Bagaimana dengan saat ini?
Tidak ada komentar